BAHASA: IndonesianEnglish
Home > Tausiyah > PERINTAH AQIQAH

PERINTAH AQIQAH

perintah aqiqah

Jika kita bertanya, apakah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam juga melakukan aqiqah?. Maka diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, na-nasa’I, al-hakim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dari Ummu Kurz al-ka’biyah, ia berkata: Bahwasannya dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam tentang aqiqah. Beliau menjawab, “Anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing. Tidak apa-apa kambing itu Jantan atau betina.

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan” dengan aqiqahnya. Disembelihkan (kambing) baginya pada hari ketujuh, diberi nama dan dicukur (rambut) kepalanya. Hal ini sebagai pengamalan terhadap sunnah nabi dan bukti bahwa kita mengikuti tradisi yang baik umat Islam terdahulu. Sebelum Islam datang, orang arab biasa mengaqiqahkan anak mereka. Setelah Rasulullah diutus, beliau tetap membiarkan kebiasaan itu bahkan melakukannya serta menganjurkan kaum muslimin melakukannya serta mengubah tradisi orang jahiliyah.(tradisi mereka mengaqiqah hanya untuk laki-laki dan melumuri darah kambing pada bayinya). Nabi mengubah Aqiqah menjadi salah satu acara sosial serta melarang perbuatan bid’ah dalam aqiqah.

Banyak hadits yang meriwayatkan tentang aqiqah, sehingga aqiqah menjadi sunnah Nabi Muhammad yang mana jika melakukannya akan mendapat pahala, jika tidak melakukannya tidak apa-apa. Karena aqiqah ini sunnah, lebih baik melakukannnya bagi orang yang mampu (bukan termasuk fakir miskin). Jika tidak mampu untuk melakukan aqiqah tidak apa-apa. Adapun hasil aqiqah sebagai acara sosial adalah harus dengan membagikannya kepada masyarakat dalam  keadaan matang atau telah diolah dan dimasak.

Rekening Donasi