BAHASA: IndonesianEnglish
Home > Pendidikan > Peran Orang Tua Dalam Memantau Kegiatan Digitalisasi Anak

Peran Orang Tua Dalam Memantau Kegiatan Digitalisasi Anak

peran orang tua

Tak dapat dipungkiri, perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh peran digitalisasi.

Namun, masih banyak pengguna internet yang hanya mampu menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik, sehingga masih banyak masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Saat ini masyarakat khususnya anak-anak semakin mudah mendapatkan informasi secara online dan real time.

Teknologi sebenarnya memberi banyak manfaat untuk anak, seperti untuk anak usia 3-6 tahun, mereka akan terlengkapi dengan ruang belajar, yaitu menggambar dan mendesain.

Dari sisi hiburan, penggunaan games, video, atau musik, akan menjadi ruang bagi anak untuk belajar secara lisan mengasah motorik dan panca inderanya. Untuk anak usia 6 tahun ke atas, mereka dapat menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Sayangnya, dunia digital tak lepas dari peredaran konten negatif yang semakin marak. Oleh sebab itu, diperlukan adanya etika digital (Digital Ethics). Bahwa menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama. Demi meningkatkan kualitas kemanusiaan

Adapun tips mendidik anak di era digital yaitu batasi waktu penggunaan gadget, jadilah panutan yang baik, jangan pernah menggunakan gadget sebagai alat penenang emosi anak, menjembatani kesenjangan komunikasi, ciptakan zona bebas teknologi dirumah dan orangtua harus bekerjasama dengan guru di sekolah.

Para orang tua diharapkan waspada jika anak keasyikan main gadget, lebih suka main game ngobrol online, dan kegiatan lain yang dikendalikan Gadget.

Anak akan tentan terpapar cyberbullying, persekusi online, hoaks, ujaran kebencian, konten radikal, pornografi, kekerasan daring, penipuan daring, pencurian data, serangan siber, dan lain-lain.

Hak digital bagi anak-anak yaitu hak anak untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam ruang digital harus dihormati sepenuhnya. Membuka akses anak pada lanskap digital adalah salah satu wujud dari penegakan hak digital anak-anak.

Anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir. Untuk itu, ajari internet sesuai usia.

Untuk anak usia 2-3 tahun, batasi waktu, media digital dalam bentuk audio, dampingi + interaktif, pahami bahwa gadget bukan pengganti peran orang tua. Lalu untuk anak usia 4-7 tahun, buat kesepakatan serta program/aplikasi kesiapan sekolah dengan mengenal mana yang fakta dan fantasi.

Anak usia 11+ tahun, tekankan pada produktivitas positif, partisipasi sosial melalui media digital, dan bangun karakter digital. Anak usia 13-18 tahun, perkenalkan keragaman, membuat kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, pantau, konsisten.

Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang kebanyakan masih belum memahami digital. Tantangan di dunia digital yaitu kemudahan akses internet, bebas online tanpa aturan, anak tahu lebih banyak dari pada orang tua, dan anak inginkan kebebasan.

Untuk itu, penting sekali menjaga anak agar tetap aman di dunia maya. Masuklah ke dunia online mereka, selayaknya Anda mengenal lingkup gerak mereka, pastikan juga Anda mengenal ‘taman bermain’ mereka yang lain.

“Buatlah aturan bersama mereka, buat aturan dengan membicarakannya dulu dengan mereka, termasuk membicarakan mengenai konsekuensi jika mereka melanggar aturan tersebut. Perhatikan lokasi, alih-alih membiarkan anak Anda memakai komputer di kamar pribadi, tempatkanlah komputer di tempat umum. Kenali situs yang aman untuk usianya,” jelas Aji.

Pengguna internet berdasarkan data APJJI terbaru, anak-anak secara keseluruhan menempati porsi 25.42% dari keseluruhan pengguna Internet di Indonesia. Mereka terdiri dari anak-anak berusia 5-12 tahun. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan anak belajar tentang keamanan online agar menyadari risiko yang bisa saja terjadi dan mampu menggunakan teknologi dengan bijak.

Adapun metode agar anak aman dengan gadget diantaranya: Mengawasi anak bisa dilakukan dengan cara aktif menggunakan gadget bersama anak. Mengatur waktu interaksi menjadi satu cara untuk menjaga kesehatan mata pada anak. Membatasi situs-situs yang diakses agar anak tetap sesuai dengan kebutuhan dan umur anak.

Tak ketinggalan, pemantauan yang bisa dilakukan orang tua salah satu satunya dengan melihat atau memeriksa aktivitas online anak-anak. Anak juga perlu diajak berfikir kritis, sebab konten yang baik tentu benar, namun tidak semua konten yang benar pantas disebar. Konten yang benar belum tentu bermanfaat, saring sebelum sharing.

Dengan mengatur waktu kegitan dihanphone anak, bila akhir pekan di sedikitkan waktu bermain hanphonenya dan kalau di hari biasa di perbanyak waktunya karena anak manggunkan handphone untuk kegiatan belajar. (RP)