BAHASA: IndonesianEnglish
Home > Tausiyah > Bekal Ramadhan

Bekal Ramadhan

bekal ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keistimewaan. Padanya terdapat pelaksanaan puasa wajib yaitu puasa Ramadhan.

Agar tidak tercampur antara pelaksanaan puasa wajib dan puasa sunnah, Rosulullah ﷺ telah memberikan aturan syariat dalam menghadapi hari-hari masuknya bulan Romadhon.

Rasulullah ﷺ bersabda,

((لا تقدموا رمضان بصوم يوم ولا يومين، إلا رجل كان يصوم يوما فليصمه))

“Janganlah kalian mendahului Romadhon dengan berpuasa satu hari dan tidak pula dua hari, kecuali seorang laki-laki yang dia (terbiasa) berpuasa dengan suatu puasa maka berpuasalah.”

(HR. Bukhori [1914], dan Muslim [1082], shahabat yang meriwayatkannya adalah Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu).

Di dalam hadits ini terdapat larangan untuk berpuasa sehari atau dua hari menjelang memasuki bulan Ramadhan, akan tetapi boleh saja untuk tetap berpuasa sunnah bagi seseorang yang sudah terbiasa berpuasa sunnah kemudian ketika dia akan berpuasa sunnah yang sudah menjadi rutinitasnya ternyata harinya bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum Romadhon.

Hanya saja para Ulama berselisih tentang larangan tersebut, apakah masuk pada larangan yang maknanya haram untuk dilaksanakan ataukah hanya sampai pada batas makruh saja.

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullah,

“Yang benar adalah larangan untuk mengharamkan, terlebih di hari yang diragukan padanya¹). Karena sesungguhnya Ammar bin Yasir رضي الله عنهما berkata, “Barangsiapa yang berpuasa di hari yang diragukan padanya maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim ﷺ.”

(Riyadhushsholihin, jilid 3, hal. 349, cet. Dar Ibnil Jauziy, Mesir).

Adapun mengenai hikmah pelarangannya maka Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrohman bin Sholih Alu Bassam rohimahullah berkata,

“Hikmah dalam hal itu – Wallahu a’lam – : Membedakan ibadah-ibadah yang wajib daripada yang sunnah-sunnahnya, dan mempersiapkan diri untuk bisa berpuasa Romadhon dengan penuh semangat dan motivasi.

Ibnu Hajar telah menguatkan pendapat bahwa hikmahnya adalah bahwasanya hukum untuk berpuasa (Romadhon) itu berkaitan dengan terlihatnya hilal, barangsiapa yang mendahuluinya dengan berpuasa sehari atau dua hari, maka sungguh dia telah berusaha mencela hukum tersebut.

Dan bisa jadi termasuk dari hikmahnya adalah mengenai dibencinya sikap berlebih-lebihan dalam beragama, dan melampaui batas-batas yang telah Allah Ta’ala mewajibkannya.”

(Taudihul Ahkam, jilid 3, hal. 442, cet. Maktabah Al Asadiy, Mekkah).

Ketahuilah bahwa apa yang kita bahas di atas itu terkait dengan orang yang berpuasa sunnah sehari atau dua hari sebelum memasuki bulan Romadhon.

Adapun bagi orang yang memiliki kewajiban puasa qodho, puasa nadzar, maka bukanlah sekedar boleh baginya untuk berpuasa bahkan suatu keharusan bagi dirinya walaupun sudah satu hari atau dua hari sebelum memasuki bulan Romadhon.

Berkata Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrohman bin Sholih Alu Bassam rohimahullah,

“Adapun apabila seseorang wajib baginya untuk berpuasa seperti mengqodho Romadhon, atau (melaksanakan) nadzar, maka sesungguhnya berpuasa di saat sebentar lagi akan memasuki bulan Romadhon bukanlah suatu keringanan, hanya saja itu adalah suatu yang harus baginya, maka wajib untuknya berpuasa, karena sesungguhnya melaksanakan yang wajib lebih di dahulukan daripada yang makruh.”

(Taudihul Ahkam, jilid 3, hal. 442, cet. Maktabah Al Asadiy, Mekkah).