Berani Bicara : Kekuatan Lidah dalam Menegakkan Kebenaran

lidah / lisan untuk kebaikan

Di zaman sekarang, kita sering mendengar ungkapan “Lidah lebih tajam dari pedang,” dan kisah ini membuktikan betapa benarnya hal itu. Ada sebuah cerita dari masa Khalifah Harun Al-Rasyid yang bisa jadi inspirasi kita.

Kisah ini tentang seorang ulama bernama Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri. Beliau bukan cuma seorang ulama, tapi juga seorang yang sangat taat beribadah. Meskipun begitu, beliau nggak memilih untuk menyendiri dan jauh dari masyarakat. Sebaliknya, beliau selalu berani menyuarakan kebenaran.

Suatu ketika, saat Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melakukan ibadah haji, beliau melakukan sa’i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah sendirian, sementara tempat itu ditutup untuk umum. Ini membuat seorang jamaah haji bertanya kepada Abdullah, “Apakah seorang khalifah boleh mencegah rakyatnya beribadah?” Abdullah menjawab tegas, “Kalau kamu nggak berani menegur ketidakadilan ini, kamu seperti syetan bisu.”

Nggak lama setelah itu, Abdullah mendatangi Khalifah Harun dan memanggilnya tanpa menyebut jabatan. Khalifah pun menjawab dan Abdullah langsung mengingatkannya tentang tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Kata-kata Abdullah begitu kuat sampai-sampai membuat Khalifah menangis dan mengakui kesalahannya.

Dari sini kita bisa belajar, bahwa lidah punya kekuatan besar untuk menegakkan kebenaran. Allah SWT juga memuji mereka yang menggunakan lidahnya untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan. Seperti yang disebutkan dalam Al-Quran, QS 41:33, orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan menyatakan dirinya sebagai orang yang berserah diri, adalah yang terbaik dalam perkataannya.

Namun, jika kita diam dan membiarkan ketidakadilan terjadi, kita bisa jadi bagian dari masalah. Ketika kebenaran hanya jadi permainan kata, dan kebatilan dibiarkan begitu saja, itulah tanda-tanda kerusakan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang lidahnya tumpul, takut bicara jujur, dan lebih memilih diam saat melihat kesalahan.

Kita perlu mengasah lidah kita, bukan untuk menyakiti, tapi untuk menyuarakan yang benar dan menolak yang salah. Karena kalau kita nggak berani bicara, siapa lagi yang akan meluruskan kebatilan di sekitar kita?

Tetaplah berani dan gunakan suara kamu untuk hal yang baik. Wallahu a’lam bishshawab.

baca juga : Kisah Khalid Bin Walid

Similar Posts